Sering kita mendengar istilah ilmuwan, yaitu orang-orang
yang mempelajari fenomena yang terjadi di alam semesta. Dan juga kita tidak
asing dengan istilah engineer atau
biasa disebut insinyur dalam bahasa Indonesia. Mereka adalah orang-orang mengolah
akal mereka, memproses hal-hal yang mereka tangkap dari alam sekitar,
merumuskan masalah yang dialami oleh lingkungan mereka dan juga menciptakan
solusi bagi masalah yang dihadapi. Suatu bangsa jika ingin memperoleh kemajuan,
maka bangsa tersebut harus mampu memanfaatkan potensi dari para engineer dan ilmuwan mereka. Ilmuwan
maupun engineer tidak bisa dipisahkan
satu sama lain, bagaikan ilmu dengan amal. Ilmu para ilmuwan jika tidak
‘diamalkan’ oleh para engineer tentu
saja hanya akan menjadi pengetahuan semata dan tidak memberikan pengaruh yang
terlalu besar bagi kemajuan bangsa. Sebaliknya, engineer harus memiliki ilmu yang diperoleh dari para ilmuwan agar
mereka mampu ‘beramal’ dengan menciptakan sesuatu bagi bangsa mereka. Sinergi
antara engineer dan ilmuwan akan
mampu menciptakan sebuah kemajuan dan akan mampu memberikan perbaikan dalam
kehidupan manusia. Salah satu peradaban dunia yang sudah membuktikan hal
tersebut ialah peradaban Islam. Kita semua pasti pernah mempelajari matematika.
Apa yang kita pelajari di sana? Geometri, kalkulus, trigonometri, aljabar, atau
bilangan. Banyak teori yang dipelajari, dan kita tahu bahwa orang-orang yang
mengeluarkan teori dan hukum-hukum dalam matematika kebanyakan adalah
orang-orang Barat, yang sayangnya sebagian besar dari mereka adalah bukan orang
Islam. Namun pernahkah Anda mendengar bahwa kata “aljabar” diambil dari nama
sebuah kitab yang berjudul Al jabru wal
muqabalah, yang ditulis oleh seorang ilmuwan Islam bernama Al Khawarizmi?
Bahkan, sistem bilangan Arab yang menggantikan bilangan Romawi, dan juga angka
0 (nol) ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan Islam. Kita sebagai umat Islam tentu
saja merasa dibodohi namun juga bangga, karena fakta yang kita terima selama
ini berkata bahwa penemuan-penemuan tersebut merupakan hasil pemikiran para
ilmuwan non-Islam, dan sekarang kita tahu bahwa itu semua adalah hasil karya
orang Islam. Sekarang mari kita ulas bidang ilmu yang lain. Pernah mendengar
nama Avicenna? Tidak terdengar seperti nama orang Islam, bukan? Namun
sesungguhnya nama tersebut hanyalah pengucapan orang-orang Barat untuk menyebut
nama Ibnu Sina, seorang ilmuwan Islam yang hebat dalam bidang kedokteran.
Kitabnya yang berjudul Qanun fii
ath-thiib (Dasar-dasar Pengobatan), membahas banyak sekali masalah-masalah
dalam dunia kedokteran seperti penyakit dan penyebabnya, anatomi manusia, hingga
cara pengobatan penyakit. Pada masa lalu, kitab tersebut telah diterjemahkan ke
dalam berbagai bahasa dan bahkan menjadi pustaka referensi utama bagi para akademisi
kedokteran di seluruh dunia selama berabad-abad. Masih sangat banyak
tokoh-tokoh ilmuwan dan engineer Islam
yang belum tercantum dalam tulisan ini. Satu hal yang menarik dari fakta-fakta
tersebut, kita tentu tahu bahwa pada masa lalu belum ada teknologi secanggih
saat ini, bahkan jumlah buku yang dijadikan referensi masih belum sebanyak yang
kita jumpai saat ini. Tetapi mereka, para ilmuwan Islam telah mampu merumuskan
masalah-masalah tersebut dan membuatnya bisa dipelajari banyak orang, bahkan
ilmu dan hasil karya mereka masih dipakai hingga saat ini. Tentunya akan muncul
suatu pertanyaan dalam benak Anda, bagaimana bisa mereka melakukannya? Apa yang
mendorong mereka sehingga mampu menghasilkan karya-karya monumental tersebut?
Menurut penulis, jawaban terhadap pertanyaan di atas akan sangat mengejutkan
bagi sebagian orang, dan semoga setelah kita mengetahui jawabannya, kita akan
menjadi lebih bersemangat untuk menjadi orang-orang yang monumental seperti
mereka. Jawaban dari pertanyaan tersebut ternyata berasal dari sumber yang
sesungguhnya sangat dekat dengan kita, namun kita sendiri sering melupakannya,
meninggalkannya atau bahkan cuek terhadapnya.
Kita bisa menemukan jawabannya dalam Al-qur’an, surat Al-Baqoroh ayat kedua,
Tuhan kita Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Inilah kitab (Al-qur’an) yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan petunjuk
bagi orang-orang yang bertaqwa.” Inilah yang benar-benar dipahami oleh para
ilmuwan dan engineer Islam di masa
lampau. Mereka paham bahwa apa yang tertulis di dalam Al-qur’an adalah petunjuk terhadap segala masalah yang
dialami manusia di dunia ini, termasuk tentang masalah ilmu pengetahuan. Berangkat
dari pemahaman inilah mereka mulai mempelajari dan termotivasi untuk
membuktikan kebenaran Al-qur’an. Dengan hidayah dari Allah, mereka pun
menemukan banyak hal menakjubkan, dan apa yang mereka temukan ini membuat iman,
keyakinan, dan ketaqwaan mereka terhadap Allah meningkat. Akhir-akhir ini, banyak
riset dan penelitian oleh para ilmuwan Barat (yang notabene bukan muslim) yang
mencoba meneliti kebenaran isi kandungan Al-qur’an, dan hasilnya sama sekali
tidak ada yang bertentangan dengan apa yang difirmankan Allah di dalam Al-qur’an.
Karena hal tersebut, banyak ilmuwan-ilmuwan yang sebelumnya kafir, menjadi
beriman dan masuk Islam karena merasa takjub dengan hasil penemuannya tersebut.
Sekarang, yang menjadi persoalan adalah kita umat Islam sendiri, yang lebih
dulu memeluk Islam daripada ilmuwan-ilmuwan Barat tersebut, terutama para
ilmuwan dan engineer dari umat Islam
sendiri. Sudahkah kita memberikan sedikit sumbangsih bagi kemajuan umat
manusia? Atau setidaknya kemajuan umat Islam sendiri? Kita telah melihat
sendiri bahwa umat Islam saat ini tengah terpuruk, ditambah lagi belum begitu
banyak muncul tokoh-tokoh engineer maupun
ilmuwan Islam yang pemikiran dan sumbangsihnya sangat dibutuhkan demi
mengangkat martabat umat Islam saat ini. Belajar dari sejarah kegemilangan ilmu
pengetahuan oleh para ilmuwan dan engineer
Islam, kita seharusnya bisa menjadikan diri kita termotivasi untuk
menunjukkan karakter yang sudah lama ditanamkan ke dalam diri kita sebagai
orang Islam. Sejarah masa lampau tersebut seharusnya menjadi motivasi bagi diri
kita untuk bangkit dari keterpurukan dan krisis multidimensional yang tengah
dialami di masa modern ini. Sudah semestinya kita ‘mengamalkan’ ilmu yang telah
kita pelajari dengan cara menerapkan ide dan gagasannya untuk membangun
peradabannya guna mendapatkan kebermanfaatan, dan yang terpenting, menunjukkan
perjuangan dakwah Islam dalam bidang keilmuan. Namun untuk merealisasikan ini,
para engineer dan ilmuwan wajib untuk
berkumpul bersama atau berjamaah, agar apa yang dihasilkan nanti akan
memberikan dampak yang menyeluruh. Dalam sebuah buku
yang ditulis Ustadz
Yusuf Al-Qaradhawi, tertulis sebuah
kutipan
yang luar biasa dan seharusnya
menyadarkan kita semua, “Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan
jamaahnya. Jamaah merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan
ketaatan serta merupakan perisai terhadap kejahatan dan maksiat.” Maka pada masa-masa seperti saat inilah, para engineer
dan ilmuwan selaku penggerak
motor-motor dinamika pengetahuan
untuk kemudian saling berkumpul dan mencoba kembali menata peradaban
yang pada dasarnya telah ditata oleh
para engineer
dan ilmuwan terdahulu
yang telah menjadi sebuah kepingan
tersendiri dalam mengembangkan dakwah di bidang ilmu pengetahuannya masing-masing. Keberjamaahan yang akan menyatukan dan menguatkan pondasi dakwah di bidang keilmuan dan menjadikan sebuah mozaik
yang memberikan warna tersendiri di
era gegap gempitanya usaha untuk
menjadikan pembinaan terhadap masyarakat sebagai jalan dakwah
yang harus terus dikaryakan dan dituai
keberhasilannya dengan mengharap ridha-Nya. Usaha dakwah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi ini
harus disertai dengan usaha dakwah mengajak manusia kembali kepada Allah. Coba
bayangkan, jika manusia sudah menguasai IPTEK dan kehidupannya menjadi makmur
namun mereka lupa akan kewajibannya kepada Allah, maka yang akan turun bukanlah ridha Allah,
namun malah peringatan bahkan siksa-Nya. Maka dari itu, engineer dan ilmuwan tidak boleh meninggalkan usaha dakwah mengajak
kepada Allah di samping dakwahnya dalam bidan IPTEK. Jika usaha
ini berhasil maka tidak diragukan lagi, kejayaan Islam akan segera datang. Akan
tercipta suatu tatanan masyarakat yang baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur, peradaban yang penuh kebaikan dalam ampunan
Allah. Akhir kata, marilah kita berdoa kepada Allah agar kita semua, calon engineer dan ilmuwan Islam, diberi kemampuan
oleh Allah untuk mewujudkan cita-cita kita semua, yaitu mampu mendakwahkan
Islam ke seluruh alam sekaligus memakmurkan kehidupan manusia dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Wahai para (calon) engineer dan ilmuwan muslim, bangkitlah! Insya Allah, kita bisa.
Rabu, 30 April 2014
Minggu, 17 November 2013
Kehidupan Ini Bagaikan Sebuah Perahu
Tak ada yang tahu siapa aku sebenarnya
Aku tidak pernah merasakan sehampa ini sebelumnya
Dan jika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku,
Siapa yang akan membuatku nyaman, dan menjagaku tetap kuat?
Aku tidak pernah merasakan sehampa ini sebelumnya
Dan jika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku,
Siapa yang akan membuatku nyaman, dan menjagaku tetap kuat?
Kita semua mendayung perahu nasib
Ombak terus datang dan kita tak dapat lari
Tapi jika kita tersesat
Ombak itu akan memandumu melewati hari yang lain
Ombak terus datang dan kita tak dapat lari
Tapi jika kita tersesat
Ombak itu akan memandumu melewati hari yang lain
Jauh, Aku bernafas, seakan-akan aku tak terlihat
sepertinya aku dalam kegelapan, tapi sebenarnya hanya mataku saja yang ditutup
sepertinya aku dalam kegelapan, tapi sebenarnya hanya mataku saja yang ditutup
Aku berdoa sembari menanti hari yang baru
Bersinar terang hingga ke pinggir laut
Bersinar terang hingga ke pinggir laut
Tak ada yang tahu siapa aku sebenarnya
Mungkin mereka sama sekali tak peduli
Tapi jika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku
Aku tahu kau akan mengikutiku, dan menjagaku tetap kuat
Mungkin mereka sama sekali tak peduli
Tapi jika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku
Aku tahu kau akan mengikutiku, dan menjagaku tetap kuat
Hati orang berubah dan mencoba berlepas diri
Bulan dalam perputarannya memandu perahu ini lagi
Bulan dalam perputarannya memandu perahu ini lagi
Dan tiap kali aku memandang wajahmu
Laut yang bergelombang mengangkat hatiku
Kau membuatku ingin mempertahankan dayung ini, dan segera
Aku dapat melihat ombak itu
Laut yang bergelombang mengangkat hatiku
Kau membuatku ingin mempertahankan dayung ini, dan segera
Aku dapat melihat ombak itu
Oh, Aku dapat melihat ombak itu
Kapankah aku melihat ombak itu?
Kapankah aku melihat ombak itu?
Aku ingin kau tahu siapa aku sebenarnya
Aku tak pernah mengira aku merasakan hal ini padami
Dan jika kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu,
Aku akan mengikutimu, dan menjagamu tetap kuat
Aku tak pernah mengira aku merasakan hal ini padami
Dan jika kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu,
Aku akan mengikutimu, dan menjagamu tetap kuat
Dan perjalanan tetap berlanjut dalam hari-hari yang sepi
Bulan dalam perputarannya yang baru di atas perahu ini
Bulan dalam perputarannya yang baru di atas perahu ini
Aku berdoa sembari menanti hari yang baru
Bersinar terang hingga ke pinggir laut
Bersinar terang hingga ke pinggir laut
Dan tiap kali aku memandang wajahmu
Laut yang bergelombang mengangkat hatiku
Kau membuatku ingin mempertahankan dayung ini, dan segera
Aku dapat melihat ombak itu
Laut yang bergelombang mengangkat hatiku
Kau membuatku ingin mempertahankan dayung ini, dan segera
Aku dapat melihat ombak itu
Kita mendayung perahu takdir. Namun, gelombang terus menerjang kita
Tapi, ini tetaplah perjalanan yang mengesankan, kan? Bukankah semuanya perjalanan yang mengesankan?
Tapi, ini tetaplah perjalanan yang mengesankan, kan? Bukankah semuanya perjalanan yang mengesankan?
Sabtu, 16 November 2013
WAHAI JIWA YANG TENANG . . .
"Hai jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Masuklah ke dalam surgaKu" (QS Al-Fajr :27-30)Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.
- Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.
- Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.
- Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.
- Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.
- Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.
- Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.
- Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
- Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.
Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggap untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah Swt agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna."...Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu supaya kamu berfikir. Tentang dunia dan akhirat..." (QS Al-Baqoroh :219-220)
Senin, 14 Oktober 2013
Aksi Nyata Sebagai Bukti Para Pemuda Terhadap Sumpah Pemuda
Sebagai pemuda
bangsa tentu saja kita sudah tidak asing lagi dengan peristiwa “Sumpah Pemuda”. Sayangnya bukan karena setiap
warga negara memiliki rasa nasionalisme yang besar, akan tetapi karena peristiwa
tersebut ada pada mata pelajaran sejarah sekolah menengah. Penjelasan panjang
lebar mengenai peristiwa tersebut telah dijelaskan oleh guru kita. Walaupun persitiwa tersebut masuk
dalam mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, kita juga
belum tentu dapat mengingat setiap kejadiannya. Yang namanya Sumpah Pemuda, tokoh utamanya tentu saja
para pemuda. Perlu kita ketahui bahwa Pemuda merupakan aset masa depan bangsa yang amat bernilai dan
merupakan benih-benih unggul yang akan menjadi pohon besar yang meneduhkan
suatu saat nanti. Tidaklah mengherankan jika dalam sebuah pidatonya, founding fathers Republik Indonesia,
Soekarno mengatakan: "Seribu orang tua hanya dapat bermimpi,
satu orang pemuda dapat mengubah dunia." Kita, para pemuda Indonesia memiliki tanggung jawab besar kepada para
pendahulu kita untuk terus memajukan negara dan menjaga kemerdekaan NKRI yang
telah susah payah mereka perjuangkan di masa lampau. Pemuda Indonesia telah menunjukkan sepak terjangnya dan banyak menorehkan
tinta emas dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Salah satunya yang
fenomenal adalah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang merupakan suatu
langkah besar untuk mempersatukan Indonesia menjadi satu tanah air, satu
bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia. Sumpah itu bukanlah sekedar kata-kata
semu tanpa makna, melainkan sebuah ikrar yang agung dari para pemuda Indonesia untuk senantiasa mengutamakan rasa nasionalisme dan
menjunjung tinggi persatuan. Sebagai contoh dalam peristiwa proklamasi
kemerdekaan Indonesia. Di dalam Sumpah
Pemuda itu tersimpan sebuah tekad yang kuat dalam merintis sebuah kemerdekaan.
Dan kemerdekaan yang telah lama dinanti-nanti oleh bangsa Indonesia, akhirnya terwujud
pada 17 Agustus 1945. Dalam peristiwa ini pemuda sangat berperan penting. Para
pemuda seperti Chairul Saleh, Sukarni, Wikana dan pemuda lainnya dari Menteng
menculik Soekarno dan Hatta dari Rengasdengklok dengan tujuan untuk menghindarkan
beliau berdua dari pengaruh penjajah Jepang dalam memproklamasikan kemerdekaan.
Semangat dan keberanian dari para pemuda itulah yang membuka gerbang perubahan.
Contoh aksi pemuda yang memberikan perubahan berikutnya adalah peristiwa jatuhnya
Soekarno dari kursi kekuasaan Orde Lama. Organisasi pemusda seperti KAMI
(Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia),
KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan KASI (Kesatuan Aksi Sarjana
Indonesia) memberikan peranan yang tidak main-main dalam menumbangkan Orde Lama
dan membentuk Orde Baru. Beberapa tokoh mahasiswa atau pemuda yang terlibat diantaranya
Cosmas Batubara, Yusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, Akbar Tanjung dan tentu saja
Soe Hok Gie yang merupakan salah pemimpin aksi demonstran di lapangan yang
terkenal. Buku catatan harian Soe Hok Gie yang berjudul ‘Catatan Seorang
Demonstran’ telah banyak mengilhami generasi muda dan bahkan telah difilmkan.
Peristiwa Reformasi 1998 dengan ambruknya Orde Baru Soeharto adalah aksi pemuda
berikutnya yang memberikan perubahan besar di Indonesia. Gerakan oleh mahasiswa
ini adalah gerakan intelektual yang diwujudkan dengan turun ke jalan-jalan
karena saluran-saluran demokratis seakan telah ditutup oleh pemerintah saat itu.
Kanal-kanal demokrasi di Orde Baru telah ditutup dan dialihkan demi
melanggengkan kekuasaan. Saat suara masyarakat dan publik tidak lagi dipedulikan
dan terjadi banyak penyelewengan, KKN, dan terpuruknya perekonomian yang
membuat rakyat amat menderita, sementara banyak pejabat, konglomerat dan
kroni-kroninya hidup mewah bergelimangan harta. Saat melihat ketimpangan itu,
maka saat itu pulalah mahasiswa bergerak. Namun mari kita lihat kenyataan yang ada saat ini. Apakah sumpah pemuda tersebut masih tetap kita jalankan?
Sebagai contoh, marilah kita membahas tentang masalah
penggunaan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia seakan sudah
menjadi pajangan saja di zaman yang semakin modern ini. Penggunaan bahasa yang
tidak benar dan salah kaprah sudah menjadi makanan sehari-hari kita, yang
tersaji setiap hari di media-media entertainment, seolah-olah mencoba menghilangkan jejak dari bahasa Indonesia dari bumi pertiwi ini. “Ciyuss..Myapah...”
adalah contohnya. Sebagian besar orang kini sudah menggunakan kata-kata yang
sangat alay tersebut. Mereka
nampaknya telah melupakan poin penting ketiga dalam sumpah pemuda, yaitu
'menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia.' Sungguh ironis bukan? Dahulu
para pemuda berjuang dengan keringat bercucuran bahkan hingga bertaruh nyawa agar
seluruh masyarakat Indonesia mengenal Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, namun
ironisnya sekarang para pemuda gemar menggunakan bahasa-bahasa yang tidak jelas
untuk berkomunikasi satu sama lain. Sepertinya sudah cukup bagi kita untuk
membahas ironi tersebut. Sekarang marilah kita membahas tentang aksi kita
terkait dengan Sumpah Pemuda ini. Sudahkah kalian, para
pemuda, mempersembahkan sesuatu yang berharga untuk Indonesia? Untuk menjawab
pertanyaan ini, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Jujur saja, sampai
saat ini saya sebagai penulis mengakui bahwa belum ada yang bisa saya berikan kepada
negara Indonesia tercinta. Tidak usah jauh-jauh, pada kelurahan saya sendiri
saja saya belum bisa memberikan kontribusi berarti. Tapi janganlah kita
berkecil hati, tak ada rotan akarpun jadi. Jika kita tidak bisa melakukannya
secara langsung, lewat apa yang kita tuliskan ini sesungguhnya bisa jadi
merupakan salah satu bentuk aksi kita. Menulis adalah tali pengikat dari
ide-ide dalam pikiran kita. Menulislah, dan orang lain akan membaca pemikiran
kita. Dengan
menuliskan sesuatu yang bermanfaat, seperti menulis artikel ilmiah, membuat
karya tulis ilmiah, tulisan-tulisan lepas pada surat kabar, kita bisa
menyumbangkan ide-ide yang kita miliki untuk memajukan bangsa. Banyak ajang
untuk berkarya dalam bidang tulis menulis, misalnya Program Kreativitas
Mahasiswa (PKM), lomba karya tulis ilmiah, dan lain sebagainya. Kalau kita
merasa bahwa menulis saja tidaklah cukup, kita pun bisa menggunakan tenaga,
ide, dan pikiran kita, lalu diwujudkan dalam bentuk program-program yang
bermanfaat bagi masyarakat. Yang mampu memberdayakan masyarakat kita. Sehingga
masyarakat kita menjadi mampu untuk bergerak, maju, dan bahkan ikut memberikan
sumbangsihnya seperti yang telah kita lakukan. Kalau salah seorang dari pemuda
kita ada yang bukan pelajar –misalkan atlet- maka salah satu bentuk aksi nyata
yang mungkin adalah dengan meraih prestasi dalam suatu kompetisi, lebih-lebih
jka kompetisi tersebut bertaraf nasional ataupun internasional. Jika bicara
tentang pemberian kita terhadap negara, saya teringat dengan quotes yang terkenal dari Presiden
Amerika Serikat, John F. Kennedy yang sering sekali dikutip oleh Ir. Soekarno,
yang bunyinya: "Don’t
ask what your country can do for you, but ask what you can do for your
country” (jangan tanyakan apa yang
telah negara berikan kepadamu, bertanyalah apa yang telah kamu berikan untuk
negaramu). Kita pun bisa ikut terlibat aktif dalam menghadapi isu-isu pemerintah
dengan langsung bertemu dengan pihak yang bersangkutan. Ikut
dalam organisasi yang menaruh perhatian besar terhadap isu-isu negara dan
menjadi penghubung antara negara dengan masyarakat bisa menjadi opsi berikutnya
yang bisa kita pilih. Kalau kita ingat-ingat kembali pelajaran Kewarganegaraan
yang kita terima saat Sekolah Dasar dahulu, kita pernah mempelajari dan
mengetahui hal-hal apa saja yang dapat dilakukan oleh para pemuda dan pelajar
untuk mengisi kemerdekaan yang telah kita capai. Sebenarnya hal itu tidaklah
jauh berbeda dengan apa yang kita bahas sekarang tentang aksi nyata kita dalam
memaknai Sumpah Pemuda. Dulu kita belajar bahwa cara yang tepat bagi seorang
pelajar untuk mengisi kemerdekaan adalah dengan belajar yang tekun dan
sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Kita sebagai pemuda (yang rata-rata sudah
mahasiswa) tentulah tidak hanya belajar tekun, namun kita juga dituntut untuk
menerapkan dan mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan di bangku pendidikan
ke dalam lingkungan masyarakat. Sekedar opini, masa depan Indonesia adalah ketika generasi ini
menyiapkan generasi muda yang mempunyai karakter tangguh, ulet, tekun, sabar,
berkarakter serta bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Selain itu, Indonesia juga
amat membutuhkan pemuda-pemudi yang cerdas, amanah, kreatif, peduli pada
masyarakat, dan mampu memimpin bangsa dan negara dengan niat dan jiwa yang
bersih alias antikorupsi. Pemuda dengan kriteria tersebut adalah hal yang sangat
dibutuhkan bangsa ini di tengah carut-marut kehidupan dan politik negeri yang
kompleks. Apakah kita hanya akan terus menunggu kedatangan pemuda harapan
bangsa itu? Tentu tidak. Justru kitalah yang harus memulainya. Kawan, kita
adalah pemuda-pemudi Indonesia, tidak cukup hanya dengan kata-kata saja, aksi
kita sangatlah diperlukan untuk mengontrol serta membangun bangsa ini ke arah
yang lebih baik. Para anggota dewan yang (katanya) merupakan wakil rakyat ternyata
belum cukup untuk menjadi suara rakyat. Ironisnya, kenyataan menunjukkan banyak
wakil rakyat yang justru malah menjadi duri bagi rakyat. Sudah saatnya bagi
kita untuk menghentikan keadaan ini agar tidak makin parah. Indonesia
membutuhkan aksi nyata kita, para pemuda,
dalam memperbaiki, membangun, memajukan, dan menyejahterakan bangsa kita
tercinta dalam menghadapi masa depan yang
semakin kompleks dan penuh tantangan.
Minggu, 15 September 2013
Engineering Drawing, Why Must?
Today, together
along with the advance of the industrial engineering’s discipline
sciences and the increasing request for the human resources capable in the
industrial affairs, especially in creating the high quality entrepreneurs,
therefore we need to learn and understand all the subjects related to
industrial engineering. As
the students of industrial engineering major, we learn not only the scientific
stuffs like engineering, mathematics, but also the social stuffs like
management, economics, and communication skills. But, our focus is to learn
about industrial process, also known as the process of changing raw materials
into value-added things and everything related with it, and entrepreneurship.In
industrial engineering, there is a subject called engineering drawing (or
technical drawing). However, some of our students often ask why they learning drawing
something while they should had focused in entrepreneurial stuffs.Maybe that is
a sceptic question. As we know, when entrepreneurs want to make their products, they need to draw. A product
before it is created, it must be designed at very first time. Because the
design contains important things like the format, shape, and size of the
product, sum of materials needed, how it will be created, even the goodness and badness of the product itself.If we do not have any design, our products are
possible to go
out from our wish.To design them, we need to know engineering drawing. Engineering drawing comes out as one of efficient
communication media among engineers and it
can be recorded for design process. A technical drawing is much more effective than a
written plan [1].In other words, drawings are “engineering language” or “the language
for engineers” [2]. Technical drawings allow engineers to create
designs, make some calculation from it, and work with manufacturers. The
competency to understand and work with technical drawings is a necessary skill
on the way to become an expert in this scope [3]. However, the main point
in studying engineering drawing is how we can imagine the real things and its
real aspects in the picture, and then converting our imagination into drawings.
In learning engineering drawing,
we will obtain abilities and learn four main essences. They are the ability to
gather information (information gathering), the ability to generate ideas (idea
generation), the ability to enhance concepts(concept enhancement), and design
visualization [4]. The first essence is information gathering. It
includes looking for, collecting, and understanding the product’s picture data
[4]. This can be done by creative thinking process,
looking for informations about the product everywhere possible (such as from TV,
mass media, internet, etcetera) or even comparing the own product with the
competitors’. This is the first step of engineering drawing and could not be
simply and easily skipped since the factory would not be able to create the best
concept and design for their products if they do not have sufficient
information about the product they are going to make.Collected informations are
recognized, analyzed, reliably proven and understood afterwards, so that we can
use only the useful ones to create the design of our product. In the industrial engineering, information gathering
process can bring more benefits, such as when the industrial engineers look for
the information in analyzing factory process, and causes of problems that
happen in their factory.
The second essence is idea
generation. It includes mining and expressing product design ideas [4]. After obtaining information gathered from the
gathering process, created ideas should be converted into a sketch as a
concept, and a good understanding of projection is needed here to represent
what we want to do with this concept later. This
concept has an important role to the next step. If we can not create our idea
into the first sketch, we will never gain the real design of the things or
product which will be produced. And all we have done in the first step will be
useless. The industrial engineers must be able to drive their idea into the
realness. In the entrepreneurship, the industrial engineers always face several options
of decisions, and they have to decide which are the best for their success
later. The first concept can not be only one; we should make more. So, when one of the concepts fails, we can choose another among the concepts we have
crated. However, choosing the best concept is not easy. We should be able to
think forward and analyze the benefits and the disadvantages of each one. So,
the possibility to error can be decreased and depressed as soon as possible.
After getting a concept,
what we have to do is to enhance it into a final and perfect one through the
step called concept enhancement. Concept enhancement includes enhancing product
design concepts appropriately with international standard of engineering
drawing [4].
Before we develop the concept, we need to understand the details about the product’s
size, shape, units, and the tolerance limits permitted for the mistakes.It is intolerable if the industrial engineers produce
the same products with the different shape and size. Maybe some are tolerable,
but only at the slight differences. It is called the tolerance limit.This
process influences the popularity and the function of the products in the society,
especially in the today’s industrialization era.
And the final essence, the last
step required to do in
engineering drawing is design visualization. It includes creating product
design into a more complete and communicative picturing [4]. Things required here
is making the enhanced concept into the real product. We have to master the
rule of product’s configuration, simplifying and/or fixing the picture, the link of the picture, and the using of the Computer Aided Design. The design of the
product will be useless if the concept is not transformed into the real and
useful thing. This is one important point that the industrial engineers must
have, they have to think rationally and they
must have a habit to accustom themselves to make their ideas come true and never let their ideas only exist in their mind.
That is all
the benefits and the function of the engineering drawing in the industrial
engineering. We can conclude that the design of the products is the first step of product manufacturing process. The arranging of the product’s design by the
designer can be reached through some steps in the long
designing process. Those all will we learn in engineering drawing. Therefore, engineering
drawing is needed and important in industrial
engineering,
especially for our industrial engineers who want to be
the high-quality entrepreneurs.
References
:
[1] http://www.ehow.com/facts_6869385_importance-technical-drawing.html, accessed on September 15th, 2013
[2]
Sato, Takeshi G., and N.Sugiharso H., Menggambar
Mesin Menurut Standar ISO, Pradnya Paramitha, 1996.
[3]http://www.ehow.com/about_5692099_importance-technical-drawing-engineer.html, accessed on September 15th, 2013
Langganan:
Postingan (Atom)