Senin, 14 Oktober 2013

Aksi Nyata Sebagai Bukti Para Pemuda Terhadap Sumpah Pemuda

Sebagai pemuda bangsa tentu saja kita sudah tidak asing lagi dengan peristiwa “Sumpah Pemuda”. Sayangnya bukan karena setiap warga negara memiliki rasa nasionalisme yang besar, akan tetapi karena peristiwa tersebut ada pada mata pelajaran sejarah sekolah menengah. Penjelasan panjang lebar mengenai peristiwa tersebut telah dijelaskan oleh guru kita. Walaupun persitiwa tersebut masuk dalam mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, kita juga belum tentu dapat mengingat setiap kejadiannya. Yang namanya Sumpah Pemuda, tokoh utamanya tentu saja para pemuda. Perlu kita ketahui bahwa Pemuda merupakan aset masa depan bangsa yang amat bernilai dan merupakan benih-benih unggul yang akan menjadi pohon besar yang meneduhkan suatu saat nanti. Tidaklah mengherankan jika dalam sebuah pidatonya, founding fathers Republik Indonesia, Soekarno mengatakan: "Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia." Kita, para pemuda Indonesia memiliki tanggung jawab besar kepada para pendahulu kita untuk terus memajukan negara dan menjaga kemerdekaan NKRI yang telah susah payah mereka perjuangkan di masa lampau. Pemuda Indonesia telah menunjukkan sepak terjangnya dan banyak menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Salah satunya yang fenomenal adalah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang merupakan suatu langkah besar untuk mempersatukan Indonesia menjadi satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia. Sumpah itu bukanlah sekedar kata-kata semu tanpa makna, melainkan sebuah ikrar yang agung dari para pemuda Indonesia untuk senantiasa mengutamakan rasa nasionalisme dan menjunjung tinggi persatuan. Sebagai contoh dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di dalam Sumpah Pemuda itu tersimpan sebuah tekad yang kuat dalam merintis sebuah kemerdekaan. Dan kemerdekaan yang telah lama dinanti-nanti oleh bangsa Indonesia, akhirnya terwujud pada 17 Agustus 1945. Dalam peristiwa ini pemuda sangat berperan penting. Para pemuda seperti Chairul Saleh, Sukarni, Wikana dan pemuda lainnya dari Menteng menculik Soekarno dan Hatta dari Rengasdengklok dengan tujuan untuk menghindarkan beliau berdua dari pengaruh penjajah Jepang dalam memproklamasikan kemerdekaan. Semangat dan keberanian dari para pemuda itulah yang membuka gerbang perubahan. Contoh aksi pemuda yang memberikan perubahan berikutnya adalah peristiwa jatuhnya Soekarno dari kursi kekuasaan Orde Lama. Organisasi pemusda seperti KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia) memberikan peranan yang tidak main-main dalam menumbangkan Orde Lama dan membentuk Orde Baru. Beberapa tokoh mahasiswa atau pemuda yang terlibat diantaranya Cosmas Batubara, Yusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, Akbar Tanjung dan tentu saja Soe Hok Gie yang merupakan salah pemimpin aksi demonstran di lapangan yang terkenal. Buku catatan harian Soe Hok Gie yang berjudul ‘Catatan Seorang Demonstran’ telah banyak mengilhami generasi muda dan bahkan telah difilmkan. Peristiwa Reformasi 1998 dengan ambruknya Orde Baru Soeharto adalah aksi pemuda berikutnya yang memberikan perubahan besar di Indonesia. Gerakan oleh mahasiswa ini adalah gerakan intelektual yang diwujudkan dengan turun ke jalan-jalan karena saluran-saluran demokratis seakan telah ditutup oleh pemerintah saat itu. Kanal-kanal demokrasi di Orde Baru telah ditutup dan dialihkan demi melanggengkan kekuasaan. Saat suara masyarakat dan publik tidak lagi dipedulikan dan terjadi banyak penyelewengan, KKN, dan terpuruknya perekonomian yang membuat rakyat amat menderita, sementara banyak pejabat, konglomerat dan kroni-kroninya hidup mewah bergelimangan harta. Saat melihat ketimpangan itu, maka saat itu pulalah mahasiswa bergerak. Namun mari kita lihat kenyataan yang ada saat ini. Apakah sumpah pemuda tersebut masih tetap kita jalankan? Sebagai contoh, marilah kita membahas tentang masalah penggunaan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia seakan sudah menjadi pajangan saja di zaman yang semakin modern ini. Penggunaan bahasa yang tidak benar dan salah kaprah sudah menjadi makanan sehari-hari kita, yang tersaji setiap hari di media-media entertainment, seolah-olah mencoba menghilangkan jejak dari bahasa Indonesia dari bumi pertiwi ini. “Ciyuss..Myapah...” adalah contohnya. Sebagian besar orang kini sudah menggunakan kata-kata yang sangat alay tersebut. Mereka nampaknya telah melupakan poin penting ketiga dalam sumpah pemuda, yaitu 'menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia.' Sungguh ironis bukan? Dahulu para pemuda berjuang dengan keringat bercucuran bahkan hingga bertaruh nyawa agar seluruh masyarakat Indonesia mengenal Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, namun ironisnya sekarang para pemuda gemar menggunakan bahasa-bahasa yang tidak jelas untuk berkomunikasi satu sama lain. Sepertinya sudah cukup bagi kita untuk membahas ironi tersebut. Sekarang marilah kita membahas tentang aksi kita terkait dengan Sumpah Pemuda ini. Sudahkah kalian, para pemuda, mempersembahkan sesuatu yang berharga untuk Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Jujur saja, sampai saat ini saya sebagai penulis mengakui bahwa belum ada yang bisa saya berikan kepada negara Indonesia tercinta. Tidak usah jauh-jauh, pada kelurahan saya sendiri saja saya belum bisa memberikan kontribusi berarti. Tapi janganlah kita berkecil hati, tak ada rotan akarpun jadi. Jika kita tidak bisa melakukannya secara langsung, lewat apa yang kita tuliskan ini sesungguhnya bisa jadi merupakan salah satu bentuk aksi kita. Menulis adalah tali pengikat dari ide-ide dalam pikiran kita. Menulislah, dan orang lain akan membaca pemikiran kita. Dengan menuliskan sesuatu yang bermanfaat, seperti menulis artikel ilmiah, membuat karya tulis ilmiah, tulisan-tulisan lepas pada surat kabar, kita bisa menyumbangkan ide-ide yang kita miliki untuk memajukan bangsa. Banyak ajang untuk berkarya dalam bidang tulis menulis, misalnya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), lomba karya tulis ilmiah, dan lain sebagainya. Kalau kita merasa bahwa menulis saja tidaklah cukup, kita pun bisa menggunakan tenaga, ide, dan pikiran kita, lalu diwujudkan dalam bentuk program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Yang mampu memberdayakan masyarakat kita. Sehingga masyarakat kita menjadi mampu untuk bergerak, maju, dan bahkan ikut memberikan sumbangsihnya seperti yang telah kita lakukan. Kalau salah seorang dari pemuda kita ada yang bukan pelajar –misalkan atlet- maka salah satu bentuk aksi nyata yang mungkin adalah dengan meraih prestasi dalam suatu kompetisi, lebih-lebih jka kompetisi tersebut bertaraf nasional ataupun internasional. Jika bicara tentang pemberian kita terhadap negara, saya teringat dengan quotes yang terkenal dari Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy yang sering sekali dikutip oleh Ir. Soekarno, yang bunyinya: "Don’t  ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country” (jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, bertanyalah apa yang telah kamu berikan untuk negaramu). Kita pun bisa ikut terlibat aktif dalam menghadapi isu-isu pemerintah dengan langsung bertemu dengan pihak yang bersangkutan. Ikut dalam organisasi yang menaruh perhatian besar terhadap isu-isu negara dan menjadi penghubung antara negara dengan masyarakat bisa menjadi opsi berikutnya yang bisa kita pilih. Kalau kita ingat-ingat kembali pelajaran Kewarganegaraan yang kita terima saat Sekolah Dasar dahulu, kita pernah mempelajari dan mengetahui hal-hal apa saja yang dapat dilakukan oleh para pemuda dan pelajar untuk mengisi kemerdekaan yang telah kita capai. Sebenarnya hal itu tidaklah jauh berbeda dengan apa yang kita bahas sekarang tentang aksi nyata kita dalam memaknai Sumpah Pemuda. Dulu kita belajar bahwa cara yang tepat bagi seorang pelajar untuk mengisi kemerdekaan adalah dengan belajar yang tekun dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Kita sebagai pemuda (yang rata-rata sudah mahasiswa) tentulah tidak hanya belajar tekun, namun kita juga dituntut untuk menerapkan dan mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan di bangku pendidikan ke dalam lingkungan masyarakat. Sekedar opini, masa depan Indonesia adalah ketika generasi ini menyiapkan generasi muda yang mempunyai karakter tangguh, ulet, tekun, sabar, berkarakter serta bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Selain itu, Indonesia juga amat membutuhkan pemuda-pemudi yang cerdas, amanah, kreatif, peduli pada masyarakat, dan mampu memimpin bangsa dan negara dengan niat dan jiwa yang bersih alias antikorupsi. Pemuda dengan kriteria tersebut adalah hal yang sangat dibutuhkan bangsa ini di tengah carut-marut kehidupan dan politik negeri yang kompleks. Apakah kita hanya akan terus menunggu kedatangan pemuda harapan bangsa itu? Tentu tidak. Justru kitalah yang harus memulainya. Kawan, kita adalah pemuda-pemudi Indonesia, tidak cukup hanya dengan kata-kata saja, aksi kita sangatlah diperlukan untuk mengontrol serta membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik. Para anggota dewan yang (katanya) merupakan wakil rakyat ternyata belum cukup untuk menjadi suara rakyat. Ironisnya, kenyataan menunjukkan banyak wakil rakyat yang justru malah menjadi duri bagi rakyat. Sudah saatnya bagi kita untuk menghentikan keadaan ini agar tidak makin parah. Indonesia membutuhkan aksi nyata kita, para pemuda, dalam memperbaiki, membangun, memajukan, dan menyejahterakan bangsa kita tercinta dalam menghadapi masa depan yang  semakin  kompleks  dan penuh tantangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar