Sering kita mendengar istilah ilmuwan, yaitu orang-orang
yang mempelajari fenomena yang terjadi di alam semesta. Dan juga kita tidak
asing dengan istilah engineer atau
biasa disebut insinyur dalam bahasa Indonesia. Mereka adalah orang-orang mengolah
akal mereka, memproses hal-hal yang mereka tangkap dari alam sekitar,
merumuskan masalah yang dialami oleh lingkungan mereka dan juga menciptakan
solusi bagi masalah yang dihadapi. Suatu bangsa jika ingin memperoleh kemajuan,
maka bangsa tersebut harus mampu memanfaatkan potensi dari para engineer dan ilmuwan mereka. Ilmuwan
maupun engineer tidak bisa dipisahkan
satu sama lain, bagaikan ilmu dengan amal. Ilmu para ilmuwan jika tidak
‘diamalkan’ oleh para engineer tentu
saja hanya akan menjadi pengetahuan semata dan tidak memberikan pengaruh yang
terlalu besar bagi kemajuan bangsa. Sebaliknya, engineer harus memiliki ilmu yang diperoleh dari para ilmuwan agar
mereka mampu ‘beramal’ dengan menciptakan sesuatu bagi bangsa mereka. Sinergi
antara engineer dan ilmuwan akan
mampu menciptakan sebuah kemajuan dan akan mampu memberikan perbaikan dalam
kehidupan manusia. Salah satu peradaban dunia yang sudah membuktikan hal
tersebut ialah peradaban Islam. Kita semua pasti pernah mempelajari matematika.
Apa yang kita pelajari di sana? Geometri, kalkulus, trigonometri, aljabar, atau
bilangan. Banyak teori yang dipelajari, dan kita tahu bahwa orang-orang yang
mengeluarkan teori dan hukum-hukum dalam matematika kebanyakan adalah
orang-orang Barat, yang sayangnya sebagian besar dari mereka adalah bukan orang
Islam. Namun pernahkah Anda mendengar bahwa kata “aljabar” diambil dari nama
sebuah kitab yang berjudul Al jabru wal
muqabalah, yang ditulis oleh seorang ilmuwan Islam bernama Al Khawarizmi?
Bahkan, sistem bilangan Arab yang menggantikan bilangan Romawi, dan juga angka
0 (nol) ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan Islam. Kita sebagai umat Islam tentu
saja merasa dibodohi namun juga bangga, karena fakta yang kita terima selama
ini berkata bahwa penemuan-penemuan tersebut merupakan hasil pemikiran para
ilmuwan non-Islam, dan sekarang kita tahu bahwa itu semua adalah hasil karya
orang Islam. Sekarang mari kita ulas bidang ilmu yang lain. Pernah mendengar
nama Avicenna? Tidak terdengar seperti nama orang Islam, bukan? Namun
sesungguhnya nama tersebut hanyalah pengucapan orang-orang Barat untuk menyebut
nama Ibnu Sina, seorang ilmuwan Islam yang hebat dalam bidang kedokteran.
Kitabnya yang berjudul Qanun fii
ath-thiib (Dasar-dasar Pengobatan), membahas banyak sekali masalah-masalah
dalam dunia kedokteran seperti penyakit dan penyebabnya, anatomi manusia, hingga
cara pengobatan penyakit. Pada masa lalu, kitab tersebut telah diterjemahkan ke
dalam berbagai bahasa dan bahkan menjadi pustaka referensi utama bagi para akademisi
kedokteran di seluruh dunia selama berabad-abad. Masih sangat banyak
tokoh-tokoh ilmuwan dan engineer Islam
yang belum tercantum dalam tulisan ini. Satu hal yang menarik dari fakta-fakta
tersebut, kita tentu tahu bahwa pada masa lalu belum ada teknologi secanggih
saat ini, bahkan jumlah buku yang dijadikan referensi masih belum sebanyak yang
kita jumpai saat ini. Tetapi mereka, para ilmuwan Islam telah mampu merumuskan
masalah-masalah tersebut dan membuatnya bisa dipelajari banyak orang, bahkan
ilmu dan hasil karya mereka masih dipakai hingga saat ini. Tentunya akan muncul
suatu pertanyaan dalam benak Anda, bagaimana bisa mereka melakukannya? Apa yang
mendorong mereka sehingga mampu menghasilkan karya-karya monumental tersebut?
Menurut penulis, jawaban terhadap pertanyaan di atas akan sangat mengejutkan
bagi sebagian orang, dan semoga setelah kita mengetahui jawabannya, kita akan
menjadi lebih bersemangat untuk menjadi orang-orang yang monumental seperti
mereka. Jawaban dari pertanyaan tersebut ternyata berasal dari sumber yang
sesungguhnya sangat dekat dengan kita, namun kita sendiri sering melupakannya,
meninggalkannya atau bahkan cuek terhadapnya.
Kita bisa menemukan jawabannya dalam Al-qur’an, surat Al-Baqoroh ayat kedua,
Tuhan kita Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Inilah kitab (Al-qur’an) yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan petunjuk
bagi orang-orang yang bertaqwa.” Inilah yang benar-benar dipahami oleh para
ilmuwan dan engineer Islam di masa
lampau. Mereka paham bahwa apa yang tertulis di dalam Al-qur’an adalah petunjuk terhadap segala masalah yang
dialami manusia di dunia ini, termasuk tentang masalah ilmu pengetahuan. Berangkat
dari pemahaman inilah mereka mulai mempelajari dan termotivasi untuk
membuktikan kebenaran Al-qur’an. Dengan hidayah dari Allah, mereka pun
menemukan banyak hal menakjubkan, dan apa yang mereka temukan ini membuat iman,
keyakinan, dan ketaqwaan mereka terhadap Allah meningkat. Akhir-akhir ini, banyak
riset dan penelitian oleh para ilmuwan Barat (yang notabene bukan muslim) yang
mencoba meneliti kebenaran isi kandungan Al-qur’an, dan hasilnya sama sekali
tidak ada yang bertentangan dengan apa yang difirmankan Allah di dalam Al-qur’an.
Karena hal tersebut, banyak ilmuwan-ilmuwan yang sebelumnya kafir, menjadi
beriman dan masuk Islam karena merasa takjub dengan hasil penemuannya tersebut.
Sekarang, yang menjadi persoalan adalah kita umat Islam sendiri, yang lebih
dulu memeluk Islam daripada ilmuwan-ilmuwan Barat tersebut, terutama para
ilmuwan dan engineer dari umat Islam
sendiri. Sudahkah kita memberikan sedikit sumbangsih bagi kemajuan umat
manusia? Atau setidaknya kemajuan umat Islam sendiri? Kita telah melihat
sendiri bahwa umat Islam saat ini tengah terpuruk, ditambah lagi belum begitu
banyak muncul tokoh-tokoh engineer maupun
ilmuwan Islam yang pemikiran dan sumbangsihnya sangat dibutuhkan demi
mengangkat martabat umat Islam saat ini. Belajar dari sejarah kegemilangan ilmu
pengetahuan oleh para ilmuwan dan engineer
Islam, kita seharusnya bisa menjadikan diri kita termotivasi untuk
menunjukkan karakter yang sudah lama ditanamkan ke dalam diri kita sebagai
orang Islam. Sejarah masa lampau tersebut seharusnya menjadi motivasi bagi diri
kita untuk bangkit dari keterpurukan dan krisis multidimensional yang tengah
dialami di masa modern ini. Sudah semestinya kita ‘mengamalkan’ ilmu yang telah
kita pelajari dengan cara menerapkan ide dan gagasannya untuk membangun
peradabannya guna mendapatkan kebermanfaatan, dan yang terpenting, menunjukkan
perjuangan dakwah Islam dalam bidang keilmuan. Namun untuk merealisasikan ini,
para engineer dan ilmuwan wajib untuk
berkumpul bersama atau berjamaah, agar apa yang dihasilkan nanti akan
memberikan dampak yang menyeluruh. Dalam sebuah buku
yang ditulis Ustadz
Yusuf Al-Qaradhawi, tertulis sebuah
kutipan
yang luar biasa dan seharusnya
menyadarkan kita semua, “Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan
jamaahnya. Jamaah merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan
ketaatan serta merupakan perisai terhadap kejahatan dan maksiat.” Maka pada masa-masa seperti saat inilah, para engineer
dan ilmuwan selaku penggerak
motor-motor dinamika pengetahuan
untuk kemudian saling berkumpul dan mencoba kembali menata peradaban
yang pada dasarnya telah ditata oleh
para engineer
dan ilmuwan terdahulu
yang telah menjadi sebuah kepingan
tersendiri dalam mengembangkan dakwah di bidang ilmu pengetahuannya masing-masing. Keberjamaahan yang akan menyatukan dan menguatkan pondasi dakwah di bidang keilmuan dan menjadikan sebuah mozaik
yang memberikan warna tersendiri di
era gegap gempitanya usaha untuk
menjadikan pembinaan terhadap masyarakat sebagai jalan dakwah
yang harus terus dikaryakan dan dituai
keberhasilannya dengan mengharap ridha-Nya. Usaha dakwah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi ini
harus disertai dengan usaha dakwah mengajak manusia kembali kepada Allah. Coba
bayangkan, jika manusia sudah menguasai IPTEK dan kehidupannya menjadi makmur
namun mereka lupa akan kewajibannya kepada Allah, maka yang akan turun bukanlah ridha Allah,
namun malah peringatan bahkan siksa-Nya. Maka dari itu, engineer dan ilmuwan tidak boleh meninggalkan usaha dakwah mengajak
kepada Allah di samping dakwahnya dalam bidan IPTEK. Jika usaha
ini berhasil maka tidak diragukan lagi, kejayaan Islam akan segera datang. Akan
tercipta suatu tatanan masyarakat yang baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur, peradaban yang penuh kebaikan dalam ampunan
Allah. Akhir kata, marilah kita berdoa kepada Allah agar kita semua, calon engineer dan ilmuwan Islam, diberi kemampuan
oleh Allah untuk mewujudkan cita-cita kita semua, yaitu mampu mendakwahkan
Islam ke seluruh alam sekaligus memakmurkan kehidupan manusia dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Wahai para (calon) engineer dan ilmuwan muslim, bangkitlah! Insya Allah, kita bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar