Rabu, 30 April 2014

Engineer dan Ilmuwan Muslim, Bangkitlah!

Sering kita mendengar istilah ilmuwan, yaitu orang-orang yang mempelajari fenomena yang terjadi di alam semesta. Dan juga kita tidak asing dengan istilah engineer atau biasa disebut insinyur dalam bahasa Indonesia. Mereka adalah orang-orang mengolah akal mereka, memproses hal-hal yang mereka tangkap dari alam sekitar, merumuskan masalah yang dialami oleh lingkungan mereka dan juga menciptakan solusi bagi masalah yang dihadapi. Suatu bangsa jika ingin memperoleh kemajuan, maka bangsa tersebut harus mampu memanfaatkan potensi dari para engineer dan ilmuwan mereka. Ilmuwan maupun engineer tidak bisa dipisahkan satu sama lain, bagaikan ilmu dengan amal. Ilmu para ilmuwan jika tidak ‘diamalkan’ oleh para engineer tentu saja hanya akan menjadi pengetahuan semata dan tidak memberikan pengaruh yang terlalu besar bagi kemajuan bangsa. Sebaliknya, engineer harus memiliki ilmu yang diperoleh dari para ilmuwan agar mereka mampu ‘beramal’ dengan menciptakan sesuatu bagi bangsa mereka. Sinergi antara engineer dan ilmuwan akan mampu menciptakan sebuah kemajuan dan akan mampu memberikan perbaikan dalam kehidupan manusia. Salah satu peradaban dunia yang sudah membuktikan hal tersebut ialah peradaban Islam. Kita semua pasti pernah mempelajari matematika. Apa yang kita pelajari di sana? Geometri, kalkulus, trigonometri, aljabar, atau bilangan. Banyak teori yang dipelajari, dan kita tahu bahwa orang-orang yang mengeluarkan teori dan hukum-hukum dalam matematika kebanyakan adalah orang-orang Barat, yang sayangnya sebagian besar dari mereka adalah bukan orang Islam. Namun pernahkah Anda mendengar bahwa kata “aljabar” diambil dari nama sebuah kitab yang berjudul Al jabru wal muqabalah, yang ditulis oleh seorang ilmuwan Islam bernama Al Khawarizmi? Bahkan, sistem bilangan Arab yang menggantikan bilangan Romawi, dan juga angka 0 (nol) ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan Islam. Kita sebagai umat Islam tentu saja merasa dibodohi namun juga bangga, karena fakta yang kita terima selama ini berkata bahwa penemuan-penemuan tersebut merupakan hasil pemikiran para ilmuwan non-Islam, dan sekarang kita tahu bahwa itu semua adalah hasil karya orang Islam. Sekarang mari kita ulas bidang ilmu yang lain. Pernah mendengar nama Avicenna? Tidak terdengar seperti nama orang Islam, bukan? Namun sesungguhnya nama tersebut hanyalah pengucapan orang-orang Barat untuk menyebut nama Ibnu Sina, seorang ilmuwan Islam yang hebat dalam bidang kedokteran. Kitabnya yang berjudul Qanun fii ath-thiib (Dasar-dasar Pengobatan), membahas banyak sekali masalah-masalah dalam dunia kedokteran seperti penyakit dan penyebabnya, anatomi manusia, hingga cara pengobatan penyakit. Pada masa lalu, kitab tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan bahkan menjadi pustaka referensi utama bagi para akademisi kedokteran di seluruh dunia selama berabad-abad. Masih sangat banyak tokoh-tokoh ilmuwan dan engineer Islam yang belum tercantum dalam tulisan ini. Satu hal yang menarik dari fakta-fakta tersebut, kita tentu tahu bahwa pada masa lalu belum ada teknologi secanggih saat ini, bahkan jumlah buku yang dijadikan referensi masih belum sebanyak yang kita jumpai saat ini. Tetapi mereka, para ilmuwan Islam telah mampu merumuskan masalah-masalah tersebut dan membuatnya bisa dipelajari banyak orang, bahkan ilmu dan hasil karya mereka masih dipakai hingga saat ini. Tentunya akan muncul suatu pertanyaan dalam benak Anda, bagaimana bisa mereka melakukannya? Apa yang mendorong mereka sehingga mampu menghasilkan karya-karya monumental tersebut? Menurut penulis, jawaban terhadap pertanyaan di atas akan sangat mengejutkan bagi sebagian orang, dan semoga setelah kita mengetahui jawabannya, kita akan menjadi lebih bersemangat untuk menjadi orang-orang yang monumental seperti mereka. Jawaban dari pertanyaan tersebut ternyata berasal dari sumber yang sesungguhnya sangat dekat dengan kita, namun kita sendiri sering melupakannya, meninggalkannya atau bahkan cuek terhadapnya. Kita bisa menemukan jawabannya dalam Al-qur’an, surat Al-Baqoroh ayat kedua, Tuhan kita Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Inilah kitab (Al-qur’an) yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” Inilah yang benar-benar dipahami oleh para ilmuwan dan engineer Islam di masa lampau. Mereka paham bahwa apa yang tertulis di dalam Al-qur’an adalah petunjuk terhadap segala masalah yang dialami manusia di dunia ini, termasuk tentang masalah ilmu pengetahuan. Berangkat dari pemahaman inilah mereka mulai mempelajari dan termotivasi untuk membuktikan kebenaran Al-qur’an. Dengan hidayah dari Allah, mereka pun menemukan banyak hal menakjubkan, dan apa yang mereka temukan ini membuat iman, keyakinan, dan ketaqwaan mereka terhadap Allah meningkat. Akhir-akhir ini, banyak riset dan penelitian oleh para ilmuwan Barat (yang notabene bukan muslim) yang mencoba meneliti kebenaran isi kandungan Al-qur’an, dan hasilnya sama sekali tidak ada yang bertentangan dengan apa yang difirmankan Allah di dalam Al-qur’an. Karena hal tersebut, banyak ilmuwan-ilmuwan yang sebelumnya kafir, menjadi beriman dan masuk Islam karena merasa takjub dengan hasil penemuannya tersebut. Sekarang, yang menjadi persoalan adalah kita umat Islam sendiri, yang lebih dulu memeluk Islam daripada ilmuwan-ilmuwan Barat tersebut, terutama para ilmuwan dan engineer dari umat Islam sendiri. Sudahkah kita memberikan sedikit sumbangsih bagi kemajuan umat manusia? Atau setidaknya kemajuan umat Islam sendiri? Kita telah melihat sendiri bahwa umat Islam saat ini tengah terpuruk, ditambah lagi belum begitu banyak muncul tokoh-tokoh engineer maupun ilmuwan Islam yang pemikiran dan sumbangsihnya sangat dibutuhkan demi mengangkat martabat umat Islam saat ini. Belajar dari sejarah kegemilangan ilmu pengetahuan oleh para ilmuwan dan engineer Islam, kita seharusnya bisa menjadikan diri kita termotivasi untuk menunjukkan karakter yang sudah lama ditanamkan ke dalam diri kita sebagai orang Islam. Sejarah masa lampau tersebut seharusnya menjadi motivasi bagi diri kita untuk bangkit dari keterpurukan dan krisis multidimensional yang tengah dialami di masa modern ini. Sudah semestinya kita ‘mengamalkan’ ilmu yang telah kita pelajari dengan cara menerapkan ide dan gagasannya untuk membangun peradabannya guna mendapatkan kebermanfaatan, dan yang terpenting, menunjukkan perjuangan dakwah Islam dalam bidang keilmuan. Namun untuk merealisasikan ini, para engineer dan ilmuwan wajib untuk berkumpul bersama atau berjamaah, agar apa yang dihasilkan nanti akan memberikan dampak yang menyeluruh. Dalam sebuah buku yang ditulis Ustadz Yusuf Al-Qaradhawi, tertulis sebuah kutipan yang luar biasa dan seharusnya menyadarkan kita semua, Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan jamaahnya. Jamaah merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan ketaatan serta merupakan perisai terhadap kejahatan dan maksiat. Maka pada masa-masa seperti saat inilah, para engineer dan ilmuwan selaku penggerak motor-motor dinamika pengetahuan untuk kemudian saling berkumpul dan mencoba kembali menata peradaban yang pada dasarnya telah ditata oleh para engineer dan ilmuwan terdahulu yang telah menjadi sebuah kepingan tersendiri dalam mengembangkan dakwah di bidang ilmu pengetahuannya masing-masing. Keberjamaahan yang akan menyatukan dan menguatkan pondasi dakwah di bidang keilmuan dan menjadikan sebuah mozaik yang memberikan warna tersendiri di era gegap gempitanya usaha untuk menjadikan pembinaan terhadap masyarakat sebagai jalan dakwah yang harus terus dikaryakan dan dituai keberhasilannya dengan mengharap ridha-Nya. Usaha dakwah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi ini harus disertai dengan usaha dakwah mengajak manusia kembali kepada Allah. Coba bayangkan, jika manusia sudah menguasai IPTEK dan kehidupannya menjadi makmur namun mereka lupa akan kewajibannya kepada Allah, maka yang akan turun bukanlah ridha Allah, namun malah peringatan bahkan siksa-Nya. Maka dari itu, engineer dan ilmuwan tidak boleh meninggalkan usaha dakwah mengajak kepada Allah di samping dakwahnya dalam bidan IPTEK. Jika usaha ini berhasil maka tidak diragukan lagi, kejayaan Islam akan segera datang. Akan tercipta suatu tatanan masyarakat yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, peradaban yang penuh kebaikan dalam ampunan Allah. Akhir kata, marilah kita berdoa kepada Allah agar kita semua, calon engineer dan ilmuwan Islam, diberi kemampuan oleh Allah untuk mewujudkan cita-cita kita semua, yaitu mampu mendakwahkan Islam ke seluruh alam sekaligus memakmurkan kehidupan manusia dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Wahai para (calon) engineer dan ilmuwan muslim, bangkitlah! Insya Allah, kita bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar